Tampilkan postingan dengan label Lita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011

August 20th, 2011

Aku menyesal telah berdoa. Aku hanya mengharapkan tidak sesuatu yang buruk tapi ternyata malah datang hal yang lebih buruk dari yang kubayangkan. Bagaikan badai yang datang. Aku ingin wanita itu lenyap dari muka bumi ini. Mungkin karena dia salah satu sumber dari kegagalan dan kesedihanku ini. Aku benar-benar berharap wanita itu tidak pernah muncul dalam kehidupan ini. Kalau membunuh bukanlah sebuah kejahatan dan dosa, mungkin aku sudah membunuh wanita itu sejak dahulu. Setelah wanita itu mati aku mungkin akan merasa lebih lega. Sebab dia hanyalah whore yang menggali kuburnya sendiri. Like a deep shit. I hope my father will open his eyes and heart. That woman isn’t good for our family.

Sabtu, 03 April 2010

Jealously, Invincible Pain, My True Self

I know this is stupid...
Entah kenapa walau bulan ini penuh dengan kebahagiaan tapi aku merasakan suatu perasaan iri yang pelan-pelan memakan kemurnian hatiku dan mengisinya dengan perasaan negatif.

Aku merasa iri dengan Imouto-chan.

Tou-san lebih fokus kepada Imouto-chan yang lebih menjanjikan dan tidak bermasalah daripada diriku yang 'selalu' bermasalah. Saat aku ulang tahun Tou-san lebih banyak berbicara dengan Imouto-chan yang akan dibaptis saat itu. Sebenarnya tidak ada yang ingat dengan ulang tahunku dan aku pun bermaksud untuk melupakannya agar aku tak merasa sakit hati kalau orang lain melupakan hari ulang tahunku (bahkan orang tuaku sendiri). Mungkin yang paling ingat ya Esa...
Grannies mungkin memang pada ingat... Tapi uncles aunties from Tou-san nggak ada yang ingat sama sekali. Bahkan para sepupuku(kecuali Esa) melupakannya.
Hari ini Imouto-chan dibaptis, yah membahagiakan.

Tapi aku melihat perbedaan antara saat aku dibaptis dengan saat Imouto-chan dibaptis. Saat aku dibaptis, dalam keadaan yang terburu-buru dan tiba-tiba, hanya dihadiri oleh Tou-san, granny, dan wali baptis... Yang memberi selamat, memberkatiku selain yang hadir hanya Eyang Daru... Sedangkan Imouto-chan mempunyai banyak waktu persiapan, bahkan ia boleh berbelanja untuk keperluan baptisnya(kalau aku mana sempat, itupun hanya beli celana hitam sehari sebelumnya), bahkan saat Imouto-chan dibaptis ada banyak saudara yang hadir dan setelah misa Tou-san langsung mengajak saudara-saudaranya untuk makan bersama untuk merayakan dibaptisnya Imouto-chan dan juga hari Paskah. Banyak yang memberinya selamat dan memberkatinya di tempat(dari keluarga). Pembaptisanku tidak dirayakan ramai-ramai seperti Imouto-chan, hanya makan malam biasa seperti biasa dan hadiah kecil. Aku tidak tahu apa yang akan didapatkan oleh Imouto-chan nanti.

Dibandingkan dengan kedua saudaraku aku lebih sedikit berinteraksi dengan Tou-san dan paling sedikit diberi perhatian. Tou-san tidak pernah berusaha mengajakku bicara. Ia tidak pernah menanyakan bagaimana sekolahku sebelum akhirnya aku menjadi 'gila' dan takut dengan sekolah. Akhirnya Tou-san tidak mengetahui apapun tentangku, beliau tidak tahu diriku yang sebenarnya. Padahal Tou-san adalah satu-satunya orang tua yang kumiliki, Kaa-san sudah tidak ada. Aku bukan tipe orang yang akan menceritakan masalah sendiri tanpa diminta, aku akan menunggu seseorang untuk menanyakannya terlebih dahulu, karena aku tahu orang yang bisa menanyakannya adalah orang yang peduli padaku karena aku bukan tipe orang yang akan menunjukkan kesusahannya di wajah.
Kadang-kadang aku berpikir, apakah Tou-san sudah lelah menghadapiku? Aku bermasalah juga karena tidak ada perhatian dari orang tua. Aku bukan anak pintar, kemampuan otakku terbatas, aku hanya bisa mencorat-coret buku tulis dan buku gambar menjadi sebuah cerita yang selalu saja menjadi cerita sedih yang membingungkan, suaraku memang besar saat berbicara seperti sedang memakai toak(they always fuss about my loud voice)kalau aku memelankan suaraku mereka akan komplain kalau suaraku terlalu kecil dan tidak kedengaran. Wajahku biasa-biasa saja, polos tanpa make up dan tidak putih mulus. Aku jauh di bawah sempurna.

Sifatku masih seperti anak kecil karena mungkin aku merindukan masa kecilku yang masih lumayan 'Happy Go'. Aku merindukan keluargaku yang dulu tidak seperti sekarang yang sudah hancur semuanya.Sifat dan pikiranku seperti anak kecil, aku sadar akan hal itu. Bagaimanapun juga aku tidak ingin menjadi dewasa sebelum mendapatkan masa kecil yang membahagiakan dan sempurna karena hal itu mempengaruhi di masa depan.

Orang bilang aku mudah dibaca tapi sebenarnya mereka hanya membaca topeng yang kupakai. Hati dan pikiranku dilapisi dinding es abadi yang tak akan mencair walau api neraka berusaha untuk mencairkannya.

Semakin lama aku semakin tidak percaya dengan cinta dan kasih sayang. Karena kedua hal itu akan semakin menghilang saat aku tumbuh dewasa. Tapi percaya dengan kasih yang diberikan oleh Tuhan, aku hanya tidak percaya dengan kasih yang berada di antara manusia. Aku tahu kasih yang diberikan Tuhan sangat besar kepadaku, karena kasih-Nya aku masih mampu bertahan menahan rasa sakit di hatiku dari luka hati yang semakin lama semakin dalam...

Siapa 'aku' yang sebenarnya? Apa alasan Tou-san lebih memilih menghindariku dan hanya memberikan perhatian lebih kepada kedua saudaraku? Apakah aku kurang baik? Apakah aku kurang membuatmu bangga? Apakah aku kurang sempurna? Apakah aku tidak seperti yang kau harapkan? Apakah sebenarnya aku memang tidak akan pernah punya tempat di hati Tou-san? Rasanya hatiku semakin sakit memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini. Padahal aku hanya ingin dicintai, diperhatikan, dan seseorang mencairkan dinding es yang mengelilingi hatiku yang juga mulai membeku....

Aku hanya ingin hal itu....

Kamis, 19 November 2009

Regrets

I just sat and mind wonder... but a memory came and make me feel a huge sadness. Some face showed up in my mind, people I love very much.

One of those was my mother. I remembered how sad I was when I lost my mother... I cried very much and regret anything bad I did to her, regret I couldn't apologize to her, and regret I didn't spend much time with her. I was ten back then. People said I was too young to remember anything about my mother, but I remember it clearly. I love my mother very much.

Then I remembered about my friends at elementary school. When we were playing any games like hide and seek, police and robber, wall base (I don't know the English name of Cing benteng), drama, etc. I and few of my friends liked to hang out together. But now is different. When we're in middle school we had been separated. We hadn't call or contact at each other, no, maybe just me who they didn't contact. Well, few of them still keep in touch with me but it's not like before. I miss them very much.

My community friends, GLARYS... I don't have any word to describe it. They are funny though and I like them. But I'm just a tail. Ask why? I'm just tailing them from behind, almost never join their conversations, and they just search me when needed. And when I need them, they just nowhere around. But I miss and love them very much.

Then my love life, I got heart break many times -chuckles- maybe because I'm not pretty like the other girls or not smart enough. Haha~

But I have a though heart haha~

Kamis, 12 Maret 2009

What I Want To Write

Aku membuat banyak penyesalan... Mungkin karena keegoisan diri sendiri ya? Entahlah.

Pertama, dari ide aneh tentang kelompok GLARYS. Andai aku tak mempunyai ide itu aku tak perlu menyesal sekali. Garis, Icha, Yudhi, Ade, Shidqi, lalu Melvin yg baru bergabung. Dulu aku berpikir positif tentang kelompok ini dan sekarang aku mengelakkan pikiran-pikiran tersebut. Mungkin terdengar bodoh tapi begitulah kenyataannya.

Lalu aku membenci perbedaan di antara kami, lebih tepatnya aku dengan mereka. Seperti mereka mempunyai pacar dan aku tidak (jomblo memang seperti takdirku). Lalu dimana kami bersekolah, mereka bisa terus bersama hingga bosan. Perbedaan pergaulanku dengan pergaulan mereka, apa yg mereka obrolkan tentang teman-teman mereka. Tentu saja aku tidak mengerti apa yg mereka obrolkan. Mereka bisa bersenang-senang tanpa aku. Aku tidak mengerti, tidak tahu apa-apa, tidak nyambung, dan bengong terdiam seperti orang bodoh. Perbedaan memang baik, tapi bagiku ini bukan perbedaan yg positif! Aku tersingkirkan dan menjadi sendirian.

Tidak ada yang sempurna... Tidak ada yang abadi... Tidak ada yang berkuasa... Tidak ada yang bisa... Untuk manusia...

Bodoh bukan? Karena seperti inilah aku sangat menyesal. Tak ada jalan keluarnya. Aku sama sekali tidak berguna. Kalau kuyakin mereka masih seperti dulu, semua itu akan menghilang. Aku berbeda, aku berbeda, aku berbeda, berbeda, berbeda, dan berbeda... Seberapa banyak? Sebanyak lebih dari yang kukira. Karenanya aku mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan, kembali ke masa lalu.

Aku bagaikan orang dusun yg baru ke kota kalau berkumpul dengan mereka. Permainan tidak lucu mereka yang membuatku memaksakan tawa palsu dan berikutnya salah tingkah. Entah sudah berapa kali mereka lakukan itu padaku. Beberapa kali aku tidak bisa marah walau sebenarnya aku sangat marah, karena mereka tak menghargaiku yang sudah susah payah mengarahkan diri untuk memaafkan. Aku memang bukan pendendam, tapi memang tak seharusnya mereka mengetahui perasaanku sekarang yang telah diombang-ambing segala kegelisahan dan perasaan negatif... Perasaanku sudah tidak boleh disentuh lagi.

Aku sangat menyesal dan berkali-kali memutuskan untuk pergi saja, keluar dari status tidak jelas itu... Karena keberadaanku lebih baik tidak ada di antara mereka.

Menghilang seperti lenyap ditelan bumi. Karena aku tidak ingin merasakan perasaan benci itu...

I'm useless...